Selasa, 16 Agustus 2016

DO’A UPACARA PROKLAMASI KEMERDEKAAN

DO’A UPACARA
PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI KE – 71
TANGGAL 17 AGUSTUS 2016
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةً اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدًللهِ رَبِّ العَلَمِيْنَ حَمْدًا شَاكِرٍ حَمْدًا نَاعِمِينَ حَمْدًايُوَفِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِدَهُ يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ كَمَايَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Ya Allah ya Tuhan kami....
Dengan kerendahan hati, kami panjatkan rasa syukur kehadirat-Mu atas anugerah kemerdekaan negeri ini,  berkat rahmat dan ‘inayah-Mu serta perjuangan para pahlawan, bangsa ini meraih kemerdekaan. Hari  ini kami seluruh bangsa Indonesia memperingati Hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-71, berilah kami keberkahan, kelancaran dan keselamatan.

Ya Allah Yang Maha Penyayang.....
Sayangilah para pahlawan bangsa kami,  dikenal mapun yang tidak dikenal yang telah mempertaruhkan  harta, jiwa dan raga satu-satunya yang mereka miliki telah gugur sebagai syuhada dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta ini. tempatkanlah mereka ya...Allah di dalam surga-Mu. Curahkan rahmat kasih sayang dan ampunan-Mu atas mereka.

Ya Allah.... Tuhan Yang Maha Pemberi....
Anugerahilah bangsa kami, pemimpin-pemimpin yang adil, jujur, amanah dan berintegritas, sehingga menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi, baldatun toyyibatun warabbun gofur negara yang subur makmur dalam lindungan dan ampunan-Mu. Ya Allah anugerahilah kami generasi penerus yang beriman, bertaqwa, cerdas, jujur, disiplin, semangat belajar dan etos kerja  yang tinggi, sehingga bangsa ini mampu berdiri sendiri. Mudahkanlah kami dalam bekerja dalam menumbuhkan budaya kerja dan mantapkanlah tekad kami untuk membangun bangsa dan Negara kami dengan Kerja Nyata, guna percepatan pembangunan nasional, agar menjadi bangsa yang mandiri, bersatu, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, aman, adil, makmur dan sejahtera.

Ya Allah ya Jami’ Tuhan Yang Maha Mempersatukan
Persatukanlah bangsa kami di tengah-tengah keragaman agama, suku bangsa, budaya, sosial, dan politik. Kami sadar keragaman semua itu dapat menjadi fitnah bencana negeri ini, oleh karenanya berikanlah kami kedewasaan kehidupan beragama, berbangsa, berpolitik, dan  berdemokrasi. Hindarkanlah bangsa dan Negara kami dari marabahaya, fitnah antar Suku, Agama, Ras dan Antargolongan yang dapat memecah belah kesatuan bangsa.

Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengampun
Di hari-hari ini, kami menghadapi beragam ujian berat mulai dari alam yang kurang bersahabat, Musim yang tidak menentu, harga kebutuhan pokok yang masih tinggi, ekonomi yang belum pulih, kejahatan yang makin meluas, peredaran narkoba yang merajalela serta tantangan dan godaan semakin banyak, karenanya Ampunilah dosa dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa para pemimpin kami juga dosa para pahlawan pejuang kami, terimalah amal perjuangan mereka, karena Engkau Maha Pengampun lagi Maha mengetahui. Ya Rabbana Kabulkanlah permohonan dan doa kami, hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan.


رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسضنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةٌ وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةٌ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Rabu, 11 Februari 2015

Para Malaikat Tugas dan Hikmah Iman kepada Malaikat

A. Memahami Makna Iman kepada Malaikat dan Tugas-tugasnya 1. Pengertian Iman kepada Malaikat Iman secara bahasa artinya percaya atau yakin. Iman dari segi istilah artinya meyakini setulus hati yang mengakar kuat, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan seluruh anggota badan. Menurut M. Quraish Shihab, kata malaikat berasal dari bahasa Arab yaitu malā’ikah ( ) yang merupakan bentuk jamak dari kata malak ( ) yang terambil dari kata la’aka ( ) yang berarti “menyampaikan sesuatu”. Jadi, malak/malaikat adalah makhluk yang menyampaikan sesuatu dari Allah Swt.. Menurut istilah, mailakat adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah Swt. dari cahaya, sebagai utusan Allah Swt. yang taat, patuh, serta tidak pernah membangkang terhadap perintah- perintah-Nya. Iman kepada malaikat adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt. menciptakan malaikat sebagai makhluk gaib yang diutus untuk melaksakan segala perintah-Nya. Orang yang mengimaninya akan senantiasa menggunakan seluruh anggota badannya untuk berhati-hati dari dalam berkata-kata dan berbuat. 2. Hukum Beriman kepada Malaikat Beriman kepada malaikat hukumnya adalah far«u ‘ain. Ia merupakan salah satu rukun iman selain iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan qada/qadar. Hal ini berdasarkan pada beberapa sumber dari al-Qur’ān dan hadis sebagai berikut. a. Q.S. al-Baqarah/2:285 Artinya: “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qurān) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda- bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya, Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.” b. Q.S. an-Nisā’/4:136 Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya (Muhammad saw.) dan kepada Kitab (al- Qurān) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah Swt., malaikat-malaikat- Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh” c. Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa pada suatu hari Rasulullah saw. muncul di tengah orang banyak, lalu beliau didatangi oleh seorang laki-laki. Orang itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah saw., apakah iman itu?’ Beliau menjawab, ‘Iman adalah kamu harus percaya kepada Allah Swt., malaikat-malaikat-Nya, kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kebangkitan di akhirat nanti...” (H.R. Bukhari dan Muslim) 3. Tentang Penciptaan Malaikat Mengingat sedikitnya pengetahuan yang dimiliki manusia terutama berkaitan dengan hal-hal yang gaib termasuk malaikat, sumber yang dapat dijadikan rujukan untuk mengetahui malaikat adalah dengan berpedoman kepada al-Qur’ān dan hadis-hadis Rasulullah saw. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda: Artinya: “Dari Aisyah berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian.” (HR. Muslim) Keterangan lain tentang malaikat sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Fā¯ir/35:1 disebutkan bahwa malaikat mempunyai sayap. Allah Swt. berfirman: Artinya: “Segala puji bagi Allah Swt. pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah Swt. menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Swt. Mahakuasa atas segala sesuatu” (Q.S. Fā¯ir/35:1) Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa malaikat adalah makhluk Allah Swt. yang diciptakan dari nur atau cahaya dan memiliki sayap, sehingga jika ada keterangan lain yang menyatakan bahwa malaikat memiliki ciri-ciri yang tidak sesuai dengan keterangan dari al-Qur’ān dan hadis, patutlah kita meragukannya. 4. Jumlah Malaikat Karena sifatnya gaib, berapa jumlah malaikat secara terinci sebagaimana manusia, hanya Allah Swt. dan Rasul-Nya yang tahu. Namun demikian, keterangan hadis berikut dapat memberikan penjelasan tentang banyaknya jumlah malaikat. Hadis berikut menggambarkan banyaknya jumlah malaikat. Perhatikan hadis dari Ali ra. Artinya: Dari Ali ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengunjungi saudaranya sesama muslim maka seakan ia berjalan di bawah pepohonan surga hingga ia duduk, jika telah duduk maka rahmat akan melingkupinya. Jika mengunjunginya di waktu pagi, maka tujuh puluh ribu malaikat akan bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan jika ia mengunjunginya di waktu sore, maka tujuh puluh ribu malaikat akan bersalawat kepadanya hingga pagi hari.” (H.R. Ibnu Majah) Banyaknya jumlah malaikat tersebut menggambarkan betapa Mahakuasa Allah Swt. karena dengan jumlah malaikat yang demikian banyak, sangat mudah bagi Allah Swt. untuk mengetahui gerak-gerik serta tingkah laku manusia. Namun demikian, umat Islam diperintahkan untuk mengetahui dan mengimani sepuluh nama malaikat yang diberikut tugas secara langsung kepada manusia. Nama-nama malaikat tersebut diabadikan oleh Allah Swt. dalam al-Qur’ān serta hadis Rasulullah saw. Kesepuluh nama malaikat yang wajib kita ketahui dengan tugas-tugasnya masing-masing dijelaskan pada bagian di bawah ini. 5. Nama Malaikat dan Tugasnya Masing-masing Sebagaimana halnya manusia, para malaikat memiliki tugas. Bedanya, tugas yang diberikan Allah Swt. kepada manusia seringkali diabaikan bahkan dipertentangkan untuk dilaksanakannya. Namun para malaikat, yang diberikan tugas oleh Allah Swt. kepadanya, tidak pernah menunda apalagi melalaikan dan membangkang untuk mengerjakannya. Bahkan, dia melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah Allah Swt. dan dia tidak mendurhakai-Nya. Allah Swt. berfirman: Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah Swt. terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S. at-Tahr³m/66:6) Di antara tugas-tugas malaikat itu antara lain: 1) Beribadah kepada Allah Swt. dengan bertasbih kepada-Nya siang dan malam tanpa rasa bosan atau terpaksa; 2) Membawa wahyu kepada para Nabi dan para Rasul; 3) Memohon ampunan bagi orang-orang beriman; 4) Meniup sangkakala; 5) Mencatat amal perbuatan; 6) Mencabut nyawa; 7) Memberi salam kepada ahli surga; 8) Menyiksa ahli neraka; 9) Memikul ‘arsy; 10) Memberi kabar gembira dan memperkokoh kedudukan kaum mukminin; dan 11) Mengerjakan pekerjaan selain yang telah disebutkan di atas. Penjelasan tentang nama-nama malaikat dan tugasnya masing-masing adalah sebagai berikut. a. Malaikat Jibril Malaikat Jibril dikenal juga sebagai penghulu para malaikat. Ia adalah satu dari tiga malaikat yang namanya disebut dalam al-Qur’ān. Nama Malaikat Jibril disebut dua kali dalam al-Qur’ān yaitu pada Q.S. al-Baqarah/2:97-98 dan Q.S. at-Ta¥r³m/66:4. Malaikat Jibril memiliki beberapa nama lain atau julukan, di antaranya adalah Rµ¥ al-Am³n dan Rµ¥ al-Qudus. Adapun tugas utamanya adalah menyampaikan wahyu dari Allah Swt. kepada para nabi dan rasul-Nya. Malaikat Jibril pula yang menyampaikan berita kelahiran Nabi Isa as. kepada ibunya Maryam dan menyampaikan al-Qur’ān kepada Nabi Muhammad saw. Dalam kisah suci perjalanan Isra’ Mi’raj, sesampainya di pos perjalanan Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril tidak sanggup lagi mendampingi Rasulullah saw. untuk terus naik menghadap Allah Swt. Ia berkata, “Aku sama sekali tidak mampu mendekati Allah Swt. Perlu waktu enam puluh ribu tahun lagi aku harus terbang untuk dapat aku capai. Jika aku terus juga ke atas, aku pasti hancur luluh”. Mahasuci Allah Swt., ternyata Malaikat Jibril as. saja tidak sampai kepada Allah Swt. b. Malaikat Mikail Malaikat Mikail adalah malaikat yang diberi tugas untuk mengatur urusan makhluk Allah Swt. sekaligus mengatur rezeki terutama kepada manusia. Ia bertugas mengatur air, menurunkan hujan/petir, membagikan rezeki pada manusia, tumbuh-tumbuhan juga hewan-hewan dan lain- lain di muka bumi ini. Malaikat Mikail termasuk salah satu malaikat yang menjadi pembesar seluruh malaikat selain Malaikat Jibril. Di samping bertugas membagi rezeki dan hujan, Malaikat Mikail juga sering mendampingi Malaikat Jibril dalam menjalankan tugas-tugasnya. Di antara tugas yang pernah dilakukan bersama Malaikat Jibril adalah sebagai berikut. 1) Ketika Malaikat Jibril menjalankan tugas membelah dada Nabi Muhammad saw. untuk dicuci hatinya karena akan diisi dengan iman, islam, yakin dan sifat hilim ia mengambil peran sebagai pengambil air al-Kau¡ar (air zam.zam) untuk dijadikan sebagai pencuci hati Nabi Muhammad saw. 2) Ketika Nabi Muhammad saw. mendapat kepercayaan untuk melakukan Isra’ dan Mi’raj, Malaikat Mikail besama Jibril ikut mendampingi selama perjalanan. 3) Malaikat Mikail juga bertugas untuk menyampaikan lembaran kepada Malaikat Maut. Dalam lembaran itu tertulis sangat detail nama, tempat, dan sebab-sebab pencabutan nyawa bagi orang yang dimaksud. c. Malaikat Izrail Malaikat Izrail diberi tugas mencabut nyawa semua makhluk termasuk dirinya sendiri. Ia dikenal juga dengan sebutan Malaikat Maut. Ia merupakan salah satu dari empat malaikat utama selain Jibril dan Mikail, dan Israfil. Malaikat Izrail diberi kemampuan yang luar biasa oleh Allah Swt., hingga barat dan timur dapat dijangkau dengan mudah olehnya seperti seseorang yang sedang menghadap sebuah meja makan yang dipenuhi dengan pelbagai makanan yang siap untuk dimakan. Ia juga sanggup membolak- balikkan dunia sebagaimana kemampuan seseorang sanggup membolak- balikkan uang. Sewaktu Malaikat Izrail menjalankan tugasnya mencabut nyawa makhluk-makhluk dunia, ia akan turun ke dunia bersama-sama dengan dua kumpulan malaikat, yaitu Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Untuk mengetahui di mana seseorang akan menemui ajalnya, adalah tugas dari Malaikat Arham. d. Malaikat Israfil Malaikat Israfil diberi tugas meniup sangkakala. Israfil selalu memegang terompet suci yang terletak di bibirnya selama berabad-abad, menunggu perintah dari Allah Swt. untuk meniupnya pada hari kiamat. Pada hari itu ia akan turun ke bumi dan berdiri di batu/bukit suci di Jerusalem. Tiupan pertama akan menghancurkan dunia beserta isinya, tiupan kedua akan mematikan para malaikat dan tiupan ketiga akan membangkitkan orang- orang yang telah mati dan mengumpulkan mereka di Padang Ma¥syar. Di dalam kitab Tanbi¥ul Gāfil³n Jilid 1 halaman 60 ada sebuah hadis panjang yang menceritakan tentang kejadian kiamat yang pada bagian awalnya sangat menarik untuk dicermati. Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Ketika Allah Swt. telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah Swt. menjadikan sangkakala (terompet) dan diserahkan kepada Malaikat Israfil, kemudian ia letakkan di mulutnya sambil melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintah”. Saya bertanya: “Ya Rasulullah saw. apakah sangkakala itu?” Jawab Rasulullah saw. “Bagaikan tanduk dari cahaya.” Saya tanya; “Bagaimana besarnya?” Jawab Rasulullah saw.; “Sangat besar bulatannya, demi Allah Swt. yang mengutusku sebagai Nabi, besar bulatannya itu seluas langit dan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali. Pertama: Nafkhatul fazā’ (untuk menakutkan). Kedua: Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan). Ketiga: Nafkhatul ba’a¡ (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).” Dalam hadis di atas, disebutkan bahwa sangkakala atau terompet Malaikat Israfil itu bentuknya seperti tanduk dan terbuat dari cahaya. Ukuran bulatannya seluas langit dan bumi. Bentuknya laksana tanduk mengingatkan kita pada terompet orang-orang zaman dahulu yang terbuat dari tanduk. e. Malaikat Munkar Malaikat Munkar diberi tugas untuk bertanya kepada orang yang sudah mati di alam kubur bersama Malaikat Nakir. f. Malaikat Nakir Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir adalah dua malaikat yang bertugas menanyakan dan menguji iman orang yang sudah mati di alam kubur. Pemeriksaan akan dimulai ketika pemakaman selesai dan orang terakhir dari jamaah pemakaman telah melangkah 40 langkah dari kuburan. Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir menanyakan tiga pertanyaan: “Siapa Tuhanmu? Siapa nabimu? Apa agamamu? Apa kitabmu? Di mana kiblatmu? Siapa saudaramu?”. Seorang mukmin yang saleh akan merespons dengan benar, mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Allah Swt., Muhammad adalah nabi mereka, agama mereka adalah Islam, al- Qur’ān adalah kitab mereka, Ka’bah adalah kiblat mereka, dan muslimin dan muslimat adalah saudara mereka. Jika jawaban benar, waktu yang dihabiskan untuk menunggu hari kebangkitan adalah menyenangkan. Mereka yang tidak menjawab seperti yang dijelaskan di atas dihukum sampai hari penghakiman. g. Malaikat Raqib Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal kebaikan manusia. Ia bersama Malaikat ‘Atid yang mencatat amal buruk berjalan beriringan. (Q.S. Qāf/50:18). Dari Anas ra., dari Nabi Muhammad saw., Sabdanya: “Sesungguhnya Allah Swt. telah menugaskan dua malaikat untuk menulis segala apa yang dilakukan atau dituturkan oleh seseorang hamba-Nya (satu di sebelah kanannya dan yang satu lagi di sebelah kirinya); kemudian apabila orang itu mati, Tuhan perintahkan kedua malaikat itu dengan firman-Nya, “Hendaklah kamu berdua tinggal tetap di kubur hamba-Ku itu serta hendaklah kamu mengucap tasbih, tahmid dan takbir hingga ke hari qiamat dan hendaklah kamu menulis pahalanya untuk hamba-Ku itu.” (H.R. Abu al-Syeikh dan Tabrani) h. Malaikat ‘Atid Malaikat ‘Atid adalah bertugas mencatat segala amal keburukan manusia. Kedua malaikat ini (Raqib dan ‘Atid) sangat jujur dan tak pernah bermaksiat kepada Allah Swt. Mereka mencatat dengan penuh ketelitian, sehingga tidak ada satu pun keburukan dan kebaikan yang luput dari catatan keduanya. Mereka tidak ditugaskan untuk mengolah, menganalisis, menyimpulkan apalagi menjatuhkan vonis. Mereka hanya menyetor data, semua keputusan ada pada Maha kasih-sayang Allah Swt. i. Malaikat Malik Malaikat Malik adalah pemimpin malaikat yang bertugas di neraka. Malaikat Malik disebut dalam Q.S. Az-Zukhruf/43 :77: Artinya : “Dan mereka berseru, “Wahai (Malaikat) Malik! Biarlah Tuhan-mu mematikan kami saja.” Dia menjawab, “Sungguh, kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).” (Q.S. az-Zukhruf/43:77 ) Dari ayat di atas, dapat dipahami bahwa Malaikat Malik adalah pemimpin malaikat yang bertugas di neraka. Hal ini dipertegas oleh firman Allah Swt yang artinya, “Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)”. (Q.S. al-Mudda¡¡ir/74:30) j. Malaikat Ridwan Malaikat Ridwan diberi tugas menjaga dan mengawasi surga serta menyambut semua hamba Allah Swt. yang akan masuk ke dalamnya. Ia sangat ramah menyambut dan mempersilahkan orang-orang yang akan masuk ke dalam surga. Hikmah Beriman kepada Malaikat Orang-orang yang beriman selalu dapat mengambil pelajaran dari apa yang diimani. Dalam hal beriman kepada malaikat-malaikat Allah Swt., pelajaran yang dapat dipetik antara lain seperti berikut. 1. Menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. 2. Senantiasa hati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatan sebab segala apa yang dilakukan manusia tidak luput dari pengamatan malaikat Allah Swt. 3. Menambah kesadaran terhadap alam wujud yang tidak terjangkau oleh pancaindra. 4. Menambah rasya syukur kepada Allah Swt. karena melalui malaikat-malaikat- Nya, manusia memperoleh banyak karunia. 5. Menambah semangat dan ikhlas dalam beribadah walaupun tidak dilihat oleh orang lain ketika melakukannya. 6. Menumbuhkan cinta kepada amal saleh karena malaikat selalu siap mencatat amal manusia. 7. Semakin giat dalam berusaha karena tidak ada rezeki yang diturunkan oleh malaikat Allah Swt. tanpa usaha dan kerja keras.

Jumat, 06 Desember 2013

Pengumuman kelulusan PLPG Tahun 2013

Kelulusan PLPG Tahun 2013 tahap 1 - 4 Rayon UIN Jakarta. Provinsi DKI Jakarta - Prop. Banten. lihat pengumuman klik di sini.

Sabtu, 27 April 2013

MENJAGA DIRI DAN KELUARGA DARI API NERAKA

Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan membaca baik melalui media elektronik maupun media cetak, tentang meningkatnya kejahatan yang dilakukan sekelompok orang terhadap orang lain,kejahatan seseorang terhadap orang lain; seoarang ibu membunuh anaknya atau anak membunuh orang tuanya, ada juga yang terlibat tawuran, terjerumus obat-obat terlarang bahkan ada seorang bapak kandung yang tega menggauli anak gadisnya hingga hamil, nau’zu billah suma na’uzu billah. Tentu saja hal ini membuat kita miris mendengarnya, takut kalau-kalau kita atau keluarga kita terjerumus akan pergaulan yang tidak baik yang akan menyeretnya masuk ke dalam api nereka. Konon katanya menurut pakar komunikasi, bergejolaknya kemelut di dalam keluarga, di antaranya disebabkan pengaruh pergaulan, lingkungan, media, baik tontonan ataupun bacaan. Akibatnya terjadilah dehumanisasi, demoralisasi, dan desakralisasi, terhadap pendidikan si anak dalam keluarga. Bahkan yang lebih parah penyebab terjadinya hal tersebut adalah kurangnya pengetahuan agama si anak, lantaran minimnya pendidikan agama yang diperoleh dari orangtuanya sehingga terjadi dekadensi moral. Oleh karena itu hendaknya kita perhatikan peringatan Allah SWT dalam Al-Quran surat Attahrim [66]; 6. يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا وقودها الناس والحجارة عليها ملائكة غلاظ شداد لا يعصون الله ما أمرهم ويفعلون ما يؤمرون Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Tentang firman Allah ini imam Ali bin Abi Thalib berkata: “ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” على بن أبى طالب : ادبوهم وعلموهم Ali bin Abi Tholib berkata : Didiklah dan ta’limlah ( ajarlah ) mereka ( dirimu & keluargamu.) Ali bin Abi Tholib berkata dari Ibnu Abbas : Jaga diri dan keluargamu, suruhlah mereka dzikir dan doa kepada Allah, sehingga Allah menyelamatkan kamu dan mereka dari neraka. ابن عباس : اعملوا بطاعة الله واتقوا معاصي الله وأمروا أهليكم بالذكر ينجيكم الله من النار Ibnu Abbas berkata : Ta’atlah kamu kepada Allah. Janganlah bermaksiat kepada-Nya, Suruhlah keluargamu untuk dzikir mengingat Allah, niscaya Allah akan selamatkannya dari neraka. FAKHRURRAZI dalam tafsirnya mengatakan; peliharalah dirimu yaitu dengan cara menjauhi segala yang dilarang Allah untuk tidak dikerjakan.” Umar bin Khottob berkata : saat turun ayat ini, bertanya kepada Rasul. Kami akan jaga diri kami, lalu bagaimana dengan keluarga kami ? Jawab Rasul : Kau larang mereka apa yang Allah telah larang dari-Nya, kamu perintah mereka dengan apa yang Allah telah perintah dari-Nya, jika itu kau lakukan, akan menyelamatkan mereka dari neraka. Al-Qurtubi berkata : Di dalamnya hanya ada satu masalah : yaitu penjagaan seseorang terhadap diri dan keluarganya dari siksa neraka. Sebagian Ulama berkata : kalau dikatakan Qu anfusakum : mencakup arti anak-anak, karena anak adalah bagian dari mereka. Maka hendaklah orang tua mengajarkan tentang halal dan haram dan menjauhkannya dari kemaksiatan dan dosa, juga mengajarkan hukum-hukum lain selain hal tersebut. مجاهد : اتقوا الله وأوصوا اهليـكم بتقوى الله. Mujahid berkata : Takwalah kepada Allah dan suruhlah keluargamu untuk takwa kepada-Nya. قتادة : تأمرهم بطاعة الله وتنها هم عن معصية الله فإذا رأيت لك معصية قذعتهم عنها وزجرتهم عنها Qotadah berkata : Kau suruh keluargamu untuk taat kepada Allah, kau cegah mereka supaya tidak maksiat. Jika kamu lihat maksiat di antara keluargamu, maka ingatkan mereka dan tinggalkan kemaksiatannya. الضحاك : حق على المسلم ان يعلم اهله من قرابته وامائه وعبيده ما فرض الله عليهم وما نهاهم الله عنه. Adh-Dhohak berkata : Hak seorang muslim adalah supaya mengajari keluarga dan sanak kerabatnya tentang kewajiban mereka kepada Allah dan memberitahu larangan-larangan-Nya. الفقهاء : وهكذا فى الصوم, ليكون ذلك تمرينا له على العبادة لكى يبلغ وهو مستمر على العبادة والطاعة ومجانبة المعصية وترك المنكر. Ulama Fiqih berkata : Demikian juga seperti mengajarkan masalah-masalah shoum, agar keluarga membiasakan ibadah, agar mereka terus-menerus dalam kondisi selalu Ibadah, taat kepada Allah, menjauhi larangan dan meninggalkan kemungkaran. Al-Maroghi berkata: Hai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, hendaklah di antara kamu memberitahukan satu dengan yang lain, yaitu apa-apa yang menyelamatkan kamu dari neraka, selamatkanlah diri kalian darinya, yaitu dengan taat kepada Allah melaksanakan perintah-Nya, beritahulah keluargamu, tentang ketaatan kepada Allah, karena dengan itu akan menyelamatkan jiwa mereka dari neraka, berilah mereka nasehat dan pendidikan. Hendaklah seorang lelaki itu membenahi dirinya dengan ketaatan kepada Allah, juga membenahi keluarganya sebagai rasa tanggungjawabnya sebagai pemimpin dan yang dipimpinnya. Al Qurthubi mengingatkan juga: Hak anak terhadap orang tua, hendaklah orang tua memberikan nama yang baik, mengajarkannya tulis menulis dan menikahkan bila telah baligh. Tidak ada pemberian orang tua terhadap anak yang lebih baik daripada mendidiknya dengan didikan yang baik. Perintahlah anak-anakmu sholat jika sudah berumur 7 tahun, dan pukullah jika umur 10 th, jika meninggalkan sholatnya, pisahkan tempat tidur mereka. Melihat perkataan para sahabat yg soleh itu hendaklah setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan pendidikan agama supaya terbiasa melaksanakan perintah Allah menjalani kebaikan dan melarang mereka berbuat kejahatan dan kemaksiatan. Sebagai orang tua memiliki kewajiban memelihara diri dan keluarga dari hal-hal yang menyengsarakan, maka bimbingan orang tua terhadap putra-putrinya untuk berakidah dan beribadah kepada Allah SWT dan tidak mendurhakai-Nya. Ibadah sebagai realisasi dari iman, hendaklah diperintahkan dan dibiasakan oleh anggota keluarga untuk dikerjakan. Allah SWT berfirman: QS. Taha [20]; 132 وأمر أهلك بالصلاة واصطبر عليها لا نسألك رزقا نحن نرزقك والعاقبة للتقوى Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. Nabi saw. menyuruh kita untuk tidak bosan-bosannya menyeru anak kepada kebaikan. Karena seorang anak, mungkin belum terpanggil hatinya untuk menjadi baik hanya dengan satu atau dua kali suruhan. Nabi saw. menyuruh para orang tua untuk memerintahkan anak agar melaksanakan shalat sejak umur tujuh tahun, dan baru boleh menghukum anak yang meninggalkan salat bila ia sudah berumur sepuluh tahun. Berarti dalam jangka tiga tahun itu kita berkewajiban untuk terus menerus menyuruh anak agar melaksanakan salat sebanyak (5x365) x 3 = 5475 kali. Karena salat adalah kunci suatu kebaikan. Perhatikan Hadis ini: اول مايحسب به عبد يوم القيمة الصلاة, فاذا صلحت صلح سا ئر عمله, فاذا فسدت فسد سائر عمله Pertama yang dihisab seorang hamba pada hari kiamat adalah solat. Apabila solatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Dan apabila rusak solatnya, maka rusaklah seluruh amalnya. Untuk itulah kita harus mencurahkan segala upaya dan terus berbuat tanpa henti untuk meluruskan anak-anak kita, senantiasa memperbaiki kesalahan mereka, serta membiasakan mereka berbuat kebaikan. Ini adalah jalan yang ditempuh para Nabi dan Rasul. Nabi Nuh telah mengajak anaknya supaya beriman kepada Allah, Nabi Ibrahim juga mengajak ayahnya beriman kepada Allah dan menyuruh putra-putranya hanya beribadah hanya kepada Allah SWT. Imam Ghazali rahimahullahu dalam risalah ayyuhal walad mengumpamakan dalam mendidik anak seperti seorang petani yang merawat tanamannya, mencegah hama dan membersihkan membuang rumput-rumput liar yang mengganggu tumbuh kembang tanaman, ini semua agar tumbuh baik membawa hasil yang maksimal. Hendaklah kecintaan kita pada anak istri, ketika mencari nafkah tidaklantas melalaikan kewajiban kita sebagai hamba Allah yaitu solat 5 waktu, karena salat dan berbuat baik adalah kebutuhan manusia. Kerugian besar adalah celaka di akhirat Orang yang masuk ke dalam api yang sangat besar ini tidak mungkin dapat lari untuk meloloskan diri, karena yang menjaganya adalah para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan Allah. Semoga Allah memberikan kepada kita anak-anak yang sahalih-shalihah, yang akan membantu kita dalam mentaati Allah, mengingatkan kita manakala lupa serta memberikan nasihat kepada kita, manakal kita jauh dari agama. Rasulullah pernah menasihati sahabatnya yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari; “perbaharuilah perahumu, sebab lautan teramat dalam, bawalah bekal yang banyak, sebab perjalanan teramat jauh, ringankan bebanmu (dosa-dosamu) sebab jalannya curam, dan ikhlaskanlah amalmu, sebab pengamatan-Nya sangat waspada. Semoga kita senantiasa ada dalam taufiq dan hidayanya. amin. LUQMAN [31]; 33 يا أيها الناس اتقوا ربكم واخشوا يوما لا يجزي والد عن ولده ولا مولود هو جاز عن والده شيئا إن وعد الله حق فلا تغرنكم الحياة الدنيا ولا يغرنكم بالله الغرور Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.

Jumat, 28 Oktober 2011

Buat Akun di Google+

Google+ diprediksi bakal lebih baik dari facebook. Bagi yang berminat bikin akun di google+. caranya mudah lihat pojok kiri tampilan google, klik "anda+" klik "buat akun" ikuti langkah yang diminta google. selamat mencoba.

Senin, 04 Juli 2011

Kisah

Kisah nabi musa
Suatu ketika Nabi Musa berdialog dengan Allah.
Allah      : Hai Musa! Bawalah kehadapan-Ku orang yang mengatakan kepadamu “engkau lebih baik dari padanya”
Musa     : baik Tuhanku.
Nabi Musa pun mencari ke sana ke mari, ke pasar, ke tempa-tempat yang ramai dikunjungi manusia untuk mencari sosok manusia yang dinilainya bisa mengatakan Nabi Musa lebih baik daripadanya, namun setiap kali Nabi Musa menilainya selalu ada kelebihan pada orang lain tersebut, artinya Nabi Musa tidak lebih baik daripadanya. Gagalah Nabi Musa. Akhirnya Nabi Musapun tidak menjumpai sepotong  manusia pun yang diinginkannya yaitu yang mengatakan Nabi Musa lebih baik daipadanya.
Sampai akhirnya Nabi Musa mendatangi kerumunan binatang,di kerimunan binatang dia jumpai anjing pincang dan kudisan. Hampir-hampir saja Nabi Musa menyeret anjing tersebut di bawa ke hadapan Alla SWT. Pikir  Nabi Musa inilah yang bisa mengatakan bahwa Nabi Musa lebih baik daripadnya.  Diikatnya dan dituntunnya anjing pincang dan kudisan terebut.  Ditengah  jalan Nabi Musa melihat ada kelebihan yang dimiliki anjing, Nabi Musapun berpikir  ia tidak lebih baik dari anjing tersebut, akhirnya Nabi Musa pun melepaskan anjing pincang dan kudisan tersebut  yang sudah diikatnya.
Lalu pada waktu yang telah ditentukan Nabi Musa menghadap  Allah SWT. Allah pun berkata,
Allah      : wahai Musa, adakah orang yang mengatakan engkau lebih baik dari orang tersebut?
Musa     : Ampun wahai Tuhanku, aku tidak dapat menemukannnya. Setiap kali aku berjumpa dengan manusia dan melakukan penilaian, mesti aku jumpai ada kelebihan padanya, itu artinya aku tidak lebih baik dari padanya.
Allah      : bagus Musa, seandainya  engkau bawa orang yang mengatakan engkau lebih baik dari padanya, niscaya aku coret nama engkau dari daftar kenabian-Ku.
Sodaraku itu artinya kita pun demikian, kita kaya, tidak lantas kita lebih baik dri orang lain, kita berilmu pintar cerdas, tidak lantas otomatis kita lebih baik dari orang lain. Kita berpangkat punya kedudukan punya jabatan, tidak lantas kita lebih baik dari orang lain. Kita cantik, tampan, tidak lantas kita lebih baik dari orang lain.
Suatu ketika Nabi Muhammad menjumpai sahabat yang mengolok orang gila, lalu nabi bertanya kepada sahabat, wahai sahabat taukah kamu siapa orang gila itu, sahabat pun menunjukknya seperti itu.
Lalu nabi melanjutkan perkataannya. Bukan itu, itu hanya sedang diuji oleh Allah, seperti itu hanya ujian. Sedangkan orang gila sesungguhnya adalah, bila ia diberi kekayaan ia gila dengan kekayaannya ia sombong dan takabur, bila ia diberi ilmu dan kecerdasan ia gila dengan ilmunya ingin dihormati dan diagungkan.
Jadi orang terkena gangguan jiwa sesungguhnya bukan orang gila ia hanya mendapat ujian, ia sedang diuji Allah SWT. Tapi sesunggunnya orang gila yang bener-benar gila adalah mereka yang sombong dan takabur yang bukan haknya untuk disandang, karena pakaian kebesaran tersebut hanya milik Allah.
Islam membimbing mendidik mengajarkan kepada kita untuk tidak menganggap orang lain lebih rendah lebih hina dari kita, justru melihat setiap orang lain ada kelebihan kebaikan yang ada padanya.
اَنَا خَيْرٌ مِنْهُ perkataan ini yang pertama kali mengucapkan adalah setan iblis, yang membandingkan dirinya lebih baik dari pada adam, atas dasar kesombongan dan ketakaburan, padahal dua sipat tersebut yang berhak menyandang adalah Cuma Allah saja. Sedangkan makhluk tidak tidak lebih baik daripadanya.
[2]: 206
#sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% ã&s! È,¨?$# ©!$# çmø?xs{r& äo¨Ïèø9$# ÉOøOM}$$Î/ 4 ¼çmç7ó¡yssù æL©èygy_ 4 }§ø¤Î6s9ur ߊ$ygÏJø9$# ÇËÉÏÈ  
206. Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.
[17]: 37
Ÿwur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( y7¨RÎ) `s9 s-̍øƒrB uÚöF{$# Æs9ur x÷è=ö6s? tA$t6Ågø:$# ZwqèÛ ÇÌÐÈ  
37. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
[17]: 83
!#sŒÎ)ur $oYôJyè÷Rr& n?tã Ç`»|¡SM}$# uÚ{ôãr& $t«tRur ¾ÏmÎ7ÏR$pg¿2 ( #sŒÎ)ur çm¡¡tB Ž¤³9$# tb%x. $Uqä«tƒ ÇÑÌÈ  
83. Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila Dia ditimpa kesusahan niscaya Dia berputus asa.
[16]: 23
Ÿw tPty_ žcr& ©!$# ÞOn=÷ètƒ $tB šcrÅ¡ç $tBur šcqãYÎ=÷èム4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä šúïÎŽÉ9õ3tGó¡ßJø9$# ÇËÌÈ  
23. Tidak diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.
[27]: 14
(#rßysy_ur $pkÍ5 !$yg÷FoYs)øoKó$#ur öNåkߦàÿRr& $VJù=àß #vqè=ãæur 4 öÝàR$$sù y#øx. tb%x. èpt7É)»tã tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÊÍÈ  
14. Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) Padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.
[27]: 31
ÎoTÎ) Ny`ur Zor&tøB$# öNßgà6Î=ôJs? ôMuŠÏ?ré&ur `ÏB Èe@à2 &äóÓx« $olm;ur î¸ötã ÒOŠÏàtã ÇËÌÈ  
23. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita[1095] yang memerintah mereka, dan Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.
[1095] Yaitu ratu Balqis yang memerintah kerajaan Sabaiyah di zaman Nabi Sulaiman.
[31]: 18
Ÿwur öÏiè|Áè? š£s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9qãsù ÇÊÑÈ  
18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.